Pengemis Cinta

29 05 2008

Nggak percaya ya? Kalo zaman sekarang ini masih ada. Lepas dari kondisi atau motif dari si pelaku. Hanya saja ini benar-benar kualami.

Kalo dikatakan mengemis… mungkin sangat tragis, tapi begitulah kenyataannya. Aku harus berharap akan cinta dari seseorang, ntah karena apa. Yang ku ta’u aku menyukai dia dan mencintai dia, walau mungkin dia tidak mau tau. Atau mungkin (ini hanya pikiranku saja), diriku tidak pantas buatnya.

Kejadian beberapa waktu yang lalu (Bulan Mei awal), aku harus mengantar oleh-oleh yang pernah kujanjikan. Setelah mengatur waktu janjian dengan sangat susah, sulit dan penuh ketidakpastian, akhirnya janji ketemuan terkabul juga.

Sekitar jam 06.30 sore aku keluar dari kantor dan langsung menuju shelter Busway di depan BI, kemudian naik busway menuju arah Blok M. Nggak lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Blok M, walau sempat agak macet sedikit di HI. Sampai di sana, aku putuskan untuk keliling dulu di Ramayana, sekalian nunggu waktu yang disepakati, jam 7-an. Capek keliling, ndak dapat yang kuinginkan, aku melangkah keluar menuju Pasar Grande dan langsung ke Foodcourt under ground. Pesan A&W RootBeer, kemudian mencari tempat yang strategis. Untung saja aku bawa print out Joomla dari kantor, jadi bisa sambil baca buat membunuh waktu yang masih lama.

Sekitar 07.30 dia datang dan menghampiriku (dia sudah tau posisi tempat dudukku, sesuai dengan janji sebelumnya), wajah yang sangat kurindukan dan kucintai di depan mataku, penuh dengan senyum… O GOD please.

Pertemuan kali ini tidak membahas apa-apa, aku hanya ingin mengantar oleh-oleh yang kubawa dari Palangkaraya beberapa bulan yang lalu. Pemberian yang tertunda karena waktu yang gak pernah dia miliki. Dengan wajah tanpa senyum, menawarkan minum, membelikan minum, duduk dan basa basi sekenanya. Aku haruus menahan hatiku yang diselimuti kerinduan akan dia. Hari itu aku putuskan berhenti berharap akan cintanya. Penantian yang panjang bagiku untuk mengharap, mengemis cintanya. Aku tidak cerita banyak (maklum lagi akting) justru dia yang banyak cerita, mengenai karir di tempat dia bekerja dan keluh kesah lainnya. Yang terkhir, dia sempat juga menceritakan soal tatto yang ada di pergelangan kakinya (hanya temporary sahut dia kala itu).

Ahh…. buat apa dia cerita banyak, apakah dia tidak tau dan merasakan kalau hatiku kala itu sangat perih harus melupakan dia, perih yang akan terus kubawa dan rasakan. Mengapa dia masih saja menambahkan kenangan dalam memoriku, kenangan akan kelucuan dia saat bercerita, lembut manis wajahnya. God help me, I Love Her.

Hingga waktu harus memisahkan kami lagi. dan…

Hingga akhirnya kami berpisah kembali terminal Blok M.





Jalanku tak lurus tak mulus

29 05 2008

Ini cerita tragis lagi, bukan hanya soal Pengembang Nakal, tapi juga “Pejabat Nakal”. Bermula di Serang Baru Cikarang, jalan yang setiap hari dilewati oleh ribuan orang. Jalan yang mengantar orang-orang menuju tempat kerja, kantor, pabrik, pasar, rumah sakit, sekolah.

Kawan, sama seperti pagi yang telah lalu
Di jalan ini kawan, kita selalu bertemu
Meski ku tak mengenalmu.

Kawan, pada satu jalan menuju masa depan kita masing-masing
Kita masih bertemu di sini,
Setiap hari, pagi, siang sore dan malam yang sama.

Mungkin buruh, guru, pedagang asongan, camat, bupati
Atau apa saja.

Yang ku ta’u, kita masih berjalan pada jalan yang sama.

Mengenaskan bila romantisme jalan raya harus disandingkan dengan jalan yang sangat rusak parah, jalan rusak yang telah dibiarkan bertahun tahun, jalan yang menjadi wajah dari suatu daerah. Rusak jalan suatu daerah, menggambarkan rusaknya sistem pemerintahan di daerah tersebut (Pejabat daerah tidak becus menjalankan tanggung jawabnya).

Hingga akhirnya ketidakbecusan pejabat daerah memakan korban, dengan meninggalnya Bpk. Alm Sophan Sophian, putra terbaik bangsa Indonesia yang banyak menaruh perhatian dan kepedulian terhadap bangsa ini. dan dengan tergopoh-gopoh pejabat daerah setempat langsung meratakan kembali jalan yang berlubang hingga mulus.

Kini pertanyaannya adalah, apakah tukang sayur, tukang besi bekas, buruh, atau siap saja yang tidak menduduki jabatan penting, tidak terkenal, terjerembab hingga mencium aspal dan kemudian meregang nyawa tidak diperhitungkan?. Mereka juga adalah putra terbaik bangsa dalam bidangnya masing masing, yang juga harus diperhitungkan dan dihargai nyawanya.

Berikut kondisi Jalan Raya Cibarusah Kabupaten Bekasi, yang hanya sepelemparan batu dari Ibukota negara Indonesia, Jakarta.

Jalanku tak lurus tak mulus





Pengembang Nakal

29 05 2008

Punya rumah layak dan pantas adalah impian setiap orang, tidak masalah ukuran, tipe atau luas tanah. Penawaran rumah ‘bagus’ dan layak kala ini sangat gencar di sekeliling Anda. Dari tipe kecil (RSSS), sedang (RSS), menengah (Cluster), ato sampai mewah (Pavilion).

Menariknya lagi adalah prasyarat untuk memeiliki rumah sekarang ini sangat gampang, ada yang menawarkan kemudahan kredit atau subsidi negara. Pilihan bank penjamin juga beragam, kalau dulu orang banyak tau hanya BTN, kini bank bank lain juga telah mulai ikut ambil bagian dalam Kredit perumahan (Bank Niaga, Lippo, Panin, Mega, Permata dll). tentu saja dengan persyaratan dan kemudahan menurut caranya masing-masing.

Karena mudahnya persyaratan yang harus dipenuhi, maka banyak orang-orang yang gampang terbuai dan terlena. Karena kualitas bangunan atau rumah yang akan di kredit tidak terletak pada bank penjamin. Maka dari itu berhati-hatilah. Kalau di atas kertas, ada standar minimum yang harus dipenuhi pengembang kepada bank penjamin. Nah, ini yang menjadi titik kelemahan, yang biasanya dipakai pengembang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Dilapangan sangat berbeda dengan apa yang tertulis di atas kertas, pengembang… entah dengan mantra apa, dapat menyihir bank penjamin untuk meloloskan rumah yang dibangun. Entah itu dibawah standar atau bahkan boleh dikatakan jauh banget di bawah standar.

Setelah proses “akad” selesai, serah terima kunci… dst… dst…! maka akan tercenganglah pemilik rumah saat akan memasuki rumah “baru”-nya. Genteng bocor dikala musim hujan, plafon melengkung, list plafon patah, wc mampet, pintu kamar mandi lapuk, engsel pintu berderit, lantai pecah-pecah, tembok retak-retak, dan banyak kerusakan lain.

Komplain hanya ditanggapi dalam 3 bulan sejak serah terima kunci, padahal ‘kebusukan’ pengembang baru tercium setelah 3 bulan ke depannya (bulan keempat setelah serah terima kunci). Bolak balik komplain tidak juga membuat pengembang gerah atau merasa bersalah (berharap…?). Penangan yang lamban saat komplain diajukan, udah jadi cerita mengenaskan bagi pemilik rumah.

Gambar-gambar berikut adalah contoh dari kerjaan Pengembang Nakal “PERUM MEGA REGENCY, SERANG BARU CIKARAN BEKASI”. Rumah yang udah mulai di huni pada bulan Mei 2006… kini kondisinya sangat mengenaskan. Kalau boleh dikatakan sudah tidak layak huni lagi. Rumah yang dijanjikan masuk dalam sistem cluster, kini tak lebih seperti rumah ditengah padang rumput. Setelah hampir 2 tahun, aliran listrik dari PLN masuk rumah. Selama masa penantian itu, yang ada hanyalah derita. Setiap musim hujan sambungan listrik akan mati, dikarenakan hanya disangkutkan pada batang bambu. Tegangan listrik yang tidak stabil, karena diambil dari jaringan Lampu Penerang Jalan. Itu juga harus dibagi dengan beberapa rumah lain. Gak heran bila sumah yang berada pada sambungan terakhir akan mendapatkan voltase yang kecil, bisa dibayangkan.

Fasilitas air bersih tidak ada, hanya disediakan sumur pantek dengan kondisi yang mengenaskan juga. Air sangat kotor seperti air karat, berbau dan meinggalkan noda kuning bila dipakai untuk mencuci (hampir 2 tahun mengalami hal tragis ini). Komplain?, sudah sampe bosan. Pengembang sangat cerdik, mereka sengaja mengulur waktu untuk menghabiskan masa garansi bangunan yang hanya 3 bulan. Setelah masa garansi, pemilik rumah tidak boleh komplain lagi. Meskipun kasus sebelum masa komplain belum diselesaikan dan masih nyangkut hingga masa komplain berakhir.

Pengembang Nakal